Shock Culture Pertama Tinggal di Bitung

Setiap perpindahan tempat atau waktu pasti akan ada yang namanya Shock culture. Ya, itu wajar dan normal sih untuk pertama kali sebelum membiasakan diri dengan keadaan sekitar.  Pertama kali mendengar aku akan ditempatkan di Bitung, pertama shock banget lah. Ga pernah tinggal jauh dari orang tua, terus tiba-tiba penempatannya di Sulawesi Utara, yang notabene jauh banget dari pulau Jawa. Kalaupun mau balik, kudu mikirin harga tiket yang memang ga murah. Continue reading “Shock Culture Pertama Tinggal di Bitung”

Awal Kisahku Merantau Dimulai Dari Kota Bitung

Setelah selesai pelatihan dasar militer selama tiga bulan di Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, akhirnya aku mendapatkan penempatan tetap. Memang, selama setahun ini kami ditempatkan sementara di Jakarta untuk magang, dan setelahnya baru mendapatkan penempatan tetap. Pukul 10.00 kami sudah berkumpul di lapangan untuk dibacakan pengumuman. Satu persatu mulai disebutkan. Ada yang penempatan di Aceh, Batam, Ambon hingga Merauke. Aku sendiri mendapatkan penempatan di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Pertama mendengarnya, aku langsung lemas. Gimana sih rasanya mau nangis tapi ga bisa? itulah yang aku rasakan pas dapat penempatan di luar pulau Jawa.  Memang, sebelumnya aku terlewat pede karena menjadi kandidat untuk penempatan Jakarta, nyatanya aku tetap dilempar ke daerah juga.

Kakak dan Ibu aku pun sudah pasrah ketika mendapatkan penempatan jauh di sulawesi utara sana. Yang aku bisa lakukan adalah berdamai dengan keadaan. Menerima bahwa aku akan tinggal jauh dari orang tua dan teman-teman. Ada yang mengatakan aku lebay, tapi pernah ga sih kalian merasakan orang yang udah tinggal menetap lama dan ga pernah merantau, tiba-tiba mendapatkan penempatan jauh di luar pulau, pasti shock lah.

Bagaimana aku berdamai dengan keadaan? ya, selama ini aku berusaha mengelabuhi pikiranku yang liar ini. Aku menganggap bahwa tinggal di sana menyenangkan. Aku bisa memulai bisnis, merawat diri jadi lebih baik dan lebih pentingnya aku bisa bermain game sesuka hati. Ya, nyatanya aku tetap cemas juga, memang hanya waktu yang bisa mengobatinya.

Tiba di Bandara Soekarno Hatta

Tanggal 3 Januari 2022 adalah awal pertualangan aku di Sulawesi dimulai. Aku tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado dan kemudian pindah ke kantor aku di Manado. Singkat cerita, aku disuruh orientasi dulu seminggu di Manado dan Seminggu di Kapal. Soal orientasi ini aku ga banyak komentar. Intinya, aku ingin buru-buru ke Bitung dan tinggal menetap di sana.

Suasana Jalan Kota Bitung di Girian

Setelah masa orientasi berakhir, akhirnya aku dijemput dari Manado ke Bitung, tempat dimana aku ditempatkan sesuai surat perintah dari pusat. Bagaimana rasanya di Bitung? yang pastinya senang banget. Tempat yang tidak seburuk yang aku kira lah. Ya, aku memang masih bisa melanjutkan aktifitas seperti membaca buku dan menulis blog seperti di Jakarta dahulu. Cuman job seperti endorse produk sepertinya sudah tidak ada. Mengingat biaya pengiriman yang mahal dari Jakarta ke sini. Mau ga mau ya aku harus pindah market ke Sulawesi Utara.

Suasana Kota Bitung dari Ketinggian

Berada di Bitung ini memang menyenangkan. Kota yang tidak terlalu rame seperti di Jakarta, sangat cocok bagi aku yang introvert. Apalagi aku tinggal agak jauh dari pusat kota dan tidak ada pemukiman. Pagi hari pun aku hanya mendengar suara ayam berkokok dan burung yang hilir mudik di angkasa.

Malam itu, aku iseng buat video keberangkatan dari Jakarta ke Bitung. Lalu tidak disangka video tiktok aku FYP (For Your Page) dan viral di area Sulawesi Utara. Banyak dari mereka yang tinggal di sini menyambut aku secara daring dengan sangat baik. Aku bersyukur mendapat penempatan yang tepat di sini karena orangnya ramah-ramah. Ya, merantau tidaklah seburuk dan menakutkan. Mungkin cara inilah yang bisa membuat aku untuk hidup secara mandiri, setelah 30 tahun lamanya tinggal bersama orang tua.

Merasakan Makassar Yang Sesungguhnya

Hari itu, adalah hari kelima saya berada di Kota yang dulunya bernama Ujung Pandang ini. Dikarenakan jadwal yang cukup menyita waktu, ditambah tidak tahu harus menaiki kendaraan umum apa untuk mencapai lokasi pariwisatanya, jadilah saya mendekam disitu-situ aja, kalau enggak di Jalan Sam Ratulangi atau Jalan R.A Kartini.

Ditengah aktifitas yang sangat padat itulah, Akbar (indonesianholic.com) datang bak pahlawan di siang bolong. Berawal dari updatean iseng di path, Akbar yang baru pulang ke Makassar lantas mengajak ketemuan untuk sekedar ngopi-ngopi ala masa kini. Disela-sela kegiatan yang senggang, lalu saya mengajak Akbar untuk ketemu di sekitaran Jalan Sam Ratulangi, dan beruntungnya dia juga tak jauh dari tempat saya yaitu di sekitaran Mal Ratu Indah, masih satu jalan lah.

Berawal dari obrolan ringan lalu berakhir dengan kunjungan dadakan ke pantai yang sangat terkenal di Makassar. Yup, Pantai Losari namanya. “Finally! akhirnya bisa merasakan makassar yang sesungguhnyaucap saya dengan nada yang sangat kegirangan. Banyak anggapan belum ke makassar kalau belum foto atau mengunjungi pantai losari. Walau hujan rintik kecil menerpa sepanjang perjalanan, laju motor pun terus berjalan hingga saya pun tak sadar sudah tiba saja di lokasi, mungkin karena jarak dari Jalan Sam Ratulangi ke Pantai Losari tidak terlampau jauh.

Dikarenakan baru habis hujan, suasana di sekitaran pantai losari sedikit basah dan licin bagai batu akik di habis disemir. Pantai Losari ini emang beda dari pantai lainnya, ga ada yang namanya pasir putih yang terpampang lebar bak pantai dibali sana, tapi lebih dari itu, pantai ini hanyalah berupa reklamasi. walau begitu, menikmati sunset dari pantai reklamasi tersebut sangatlah indah. bayangkan saja, matahari turun persis di depan tulisan pantai losari itu. Selain Tulisan Pantai Losari dan City Of Makassar, di sisi lainnya terpampang suku-suku yang ada di Makassar, yaitu Makassar, Bugis, Toraja.

Sudah puas menikmati sekitar Pantai Losari, lalu Akbar mengajak saya untuk sekedar cemal cemil di sekitaran pantai losari. Yup, Akbar mengajak saya untuk menikmati makanan khas Makassar yaitu Pisang Epe. Apatuh pisang epe? yaitu sejenis pisang gepok yang digepengkan lalu dibakar dan diberi rasa sesuai selera kita. Waktu itu saya memesan rasa coklat, dan beruntungnya diberikan rasa coklat milo, duh enaknya kebangetan, dan lebih enak lagi dibayarin, duh makasih Akbar 🙂

Lepas dari Pisang Epe, rencananya saya ingin berkeliling sekitaran kota Makassar. Tujuan utama sih ke pelabuhan atau sekitaran Benteng Fort Rotterdam, eh begitu ditengah jalan handphone saya pun berbunyi tak biasanya. Dan benar saja, tak lama saya pun diharuskan pulang untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan. Yah, itulah sekelumit kisah 2 jam perjalanan yang sangat berarti, pasalnya saya akhirnya bisa merasakan makassar yang sesungguhnya! jika ada waktu mungkin saya akan mengunjungi lebih lama di Makassar dan Sekitarnya, terima kasih juga Akbar yang sudah mengajak berkeliling Makassar walau hanya sekitar dua jam saja.