Shock Culture Pertama Tinggal di Bitung

Setiap perpindahan tempat atau waktu pasti akan ada yang namanya Shock culture. Ya, itu wajar dan normal sih untuk pertama kali sebelum membiasakan diri dengan keadaan sekitar.  Pertama kali mendengar aku akan ditempatkan di Bitung, pertama shock banget lah. Ga pernah tinggal jauh dari orang tua, terus tiba-tiba penempatannya di Sulawesi Utara, yang notabene jauh banget dari pulau Jawa. Kalaupun mau balik, kudu mikirin harga tiket yang memang ga murah. Continue reading “Shock Culture Pertama Tinggal di Bitung”

5 Tips Pilih Laptop Yang Cocok Untuk Work From Home

Pandemi  Covid-19 sudah berlansung dua tahun lebih. Sudah dari tahun Februari 2020 pula aku menerapkan kebiasaan baru seperti work from home dan melakukan segala aktivitasnya melalui onlineBagi aku yang pekerja kantoran ini memang berasa banget pentingnya sebuah laptop untuk kerja dari rumah. Ya, untuk itu perlu juga membeli laptop yang sesuai dengan spesifikasi mumpuni agar kegiatan work from home dapat berjalan lancar tanpa kendala.

Oh iya, bagi kalian para pekerja ataupun anak kuliah dan sekolahan yang sedang mencari laptop, aku ada beberapa tips nih sebelum kalian membelinya. Berikut ini kami berikan lima tips membeli laptop baru.

Continue reading “5 Tips Pilih Laptop Yang Cocok Untuk Work From Home”

Awal Kisahku Merantau Dimulai Dari Kota Bitung

Setelah selesai pelatihan dasar militer selama tiga bulan di Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, akhirnya aku mendapatkan penempatan tetap. Memang, selama setahun ini kami ditempatkan sementara di Jakarta untuk magang, dan setelahnya baru mendapatkan penempatan tetap. Pukul 10.00 kami sudah berkumpul di lapangan untuk dibacakan pengumuman. Satu persatu mulai disebutkan. Ada yang penempatan di Aceh, Batam, Ambon hingga Merauke. Aku sendiri mendapatkan penempatan di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Pertama mendengarnya, aku langsung lemas. Gimana sih rasanya mau nangis tapi ga bisa? itulah yang aku rasakan pas dapat penempatan di luar pulau Jawa.  Memang, sebelumnya aku terlewat pede karena menjadi kandidat untuk penempatan Jakarta, nyatanya aku tetap dilempar ke daerah juga.

Kakak dan Ibu aku pun sudah pasrah ketika mendapatkan penempatan jauh di sulawesi utara sana. Yang aku bisa lakukan adalah berdamai dengan keadaan. Menerima bahwa aku akan tinggal jauh dari orang tua dan teman-teman. Ada yang mengatakan aku lebay, tapi pernah ga sih kalian merasakan orang yang udah tinggal menetap lama dan ga pernah merantau, tiba-tiba mendapatkan penempatan jauh di luar pulau, pasti shock lah.

Bagaimana aku berdamai dengan keadaan? ya, selama ini aku berusaha mengelabuhi pikiranku yang liar ini. Aku menganggap bahwa tinggal di sana menyenangkan. Aku bisa memulai bisnis, merawat diri jadi lebih baik dan lebih pentingnya aku bisa bermain game sesuka hati. Ya, nyatanya aku tetap cemas juga, memang hanya waktu yang bisa mengobatinya.

Tiba di Bandara Soekarno Hatta

Tanggal 3 Januari 2022 adalah awal pertualangan aku di Sulawesi dimulai. Aku tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado dan kemudian pindah ke kantor aku di Manado. Singkat cerita, aku disuruh orientasi dulu seminggu di Manado dan Seminggu di Kapal. Soal orientasi ini aku ga banyak komentar. Intinya, aku ingin buru-buru ke Bitung dan tinggal menetap di sana.

Suasana Jalan Kota Bitung di Girian

Setelah masa orientasi berakhir, akhirnya aku dijemput dari Manado ke Bitung, tempat dimana aku ditempatkan sesuai surat perintah dari pusat. Bagaimana rasanya di Bitung? yang pastinya senang banget. Tempat yang tidak seburuk yang aku kira lah. Ya, aku memang masih bisa melanjutkan aktifitas seperti membaca buku dan menulis blog seperti di Jakarta dahulu. Cuman job seperti endorse produk sepertinya sudah tidak ada. Mengingat biaya pengiriman yang mahal dari Jakarta ke sini. Mau ga mau ya aku harus pindah market ke Sulawesi Utara.

Suasana Kota Bitung dari Ketinggian

Berada di Bitung ini memang menyenangkan. Kota yang tidak terlalu rame seperti di Jakarta, sangat cocok bagi aku yang introvert. Apalagi aku tinggal agak jauh dari pusat kota dan tidak ada pemukiman. Pagi hari pun aku hanya mendengar suara ayam berkokok dan burung yang hilir mudik di angkasa.

Malam itu, aku iseng buat video keberangkatan dari Jakarta ke Bitung. Lalu tidak disangka video tiktok aku FYP (For Your Page) dan viral di area Sulawesi Utara. Banyak dari mereka yang tinggal di sini menyambut aku secara daring dengan sangat baik. Aku bersyukur mendapat penempatan yang tepat di sini karena orangnya ramah-ramah. Ya, merantau tidaklah seburuk dan menakutkan. Mungkin cara inilah yang bisa membuat aku untuk hidup secara mandiri, setelah 30 tahun lamanya tinggal bersama orang tua.

1Month1Book: Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter

Sebagai orang yang pernah bekerja di sebuah Agency, rasanya membaca buku Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter karya Aprilina Prastari membawa ingatan lama aku kembali ke masa bekerja di sana. Walau bekerja di agency, background aku sebenarnya bukan komunikasi, tapi aku adalah seorang lulusan Sistem Informasi dan pekerjaan dahulu aku di sana adalah Front-end Developer. Aku membuat iklan berjalan dan interaktif di website, atau membuat portofolio website perusahaan.

Walau aku pernah kerja di agency pada tahun 2019 lalu, tapi copywriter sendiri aku belum paham tugas dan fungsinya bagaimana. Aku pikir, copywriter kerjaannya cuman buat caption untuk sosmed, tagline iklan aja. Tapi setelah membaca buku ini, ternyata posisi copywriter itu jauh lebih kompleks dari yang aku bayangkan.

Continue reading “1Month1Book: Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter”

Solusi Konsultasi dengan Psikolog Disaat Pandemi Seperti Sekarang Ini

Aku teringat ceramah salah satu ustad yang sering didengar melalui podcast, kita hidup di dunia ini saja sudah masalah, kalau tidak mau masalah ya tidak usah hidup, begitu katanya. Jadi, jangan menganggap bahwa hanya dia, atau aku saja yang mempunyai banyak masalah. Karena semua pasti mendapatkan masalahnya masing-masing, sesuai dengan porsinya. Dan Allah pun tidak akan memberikan ujian/cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Sekarang ini yang jadi permasalahan sekarang adalah, bagaimana mencari solusi dari masalah tersebut, kan?

Awal tahun 2021 ini aku baru pindah kerja. Biasa, shock culture di tempat baru yang membuat aku sangat stress. Saking stressnya, berat badan aku turun sampai 4-5 kg. muka kucel, kurang bersemangat dan gampang banget marah karena tuntutan kerjaan di tempat baru.

Akhirnya, aku meluapkan emosi dan stress tadi ke sosial media. Ternyata, curhat ke sosmed itu ga membuat aku menjadi lebih tenang juga. Bahkan, aku jadi lebih stress manakala teman aku malah balik membuat aku makin tersudut, dan menjadi merasa bersalah karena kelakuan aku ini. Aku pikir-pikir, kayaknya ada yang salah dengan cara aku curhat di sosmed. Yasudah, aku coba tahan segala curhatan di sosmed.

Akhirnya, aku mencoba curhat ke teman dekat aku saja. Dia hanya bisa mendengarkan keluhan dan curhatan aku, tanpa bisa memberikan solusi apa yang perlu aku lakukan dalam menangani permasalahan aku saat itu. Akhirnya, lambat laun aku coba belajar dari artikel, dari video youtube, tetapi sama saja tidak mendapatkan solusinya.

Aku coba daftar mentoring. Ya, yang menjadi tantangan saat mentoring ini adalah cukup susahnya deal soal jadwal. Sekalinya pas, si mentor ga bisa memberikan mentoring karena belum menguasai persoalan yang aku hadapi. Sampai aku pun rasanya udah hopeless. Mentor aja ga mampu, apalagi aku? Sampai akhirnya ada satu mentor yang mau menerima keluhan yang aku rasakan ini. Tapi, setelah berkonsultasi selama 75 menit, rasanya kok sama aja ya. Aku ga mendapatkan solusi dari apa yang aku rasakan ini.

Aku makin bingung manakala situasi pandemi covid-19 ini makin teruk. Korban makin banyak. Jangankan di luar sana, di kantor aku sendiri banyak yang jadi cluster covid-19. Aku berniat untuk konsultasi di puskesmas, sama seperti yang pernah temanku lakukan, tapi itu ga mungkin untuk saat ini, karena sekarang puskesmas lebih fokus menangani covid-19.

Disaat harapan yang mulai pupus, Temanku menyarankan aku untuk daftar konsultasi psikologi di psylution.id dan  Aku langsung ngecek ke instagramnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung chatting dengan nomor yang sudah tertera di link ini. Begitu chat, responnya lumayan cepat. Aku juga sempet kaget manakala harganya cukup terjangkau, dengan kualitas psikolog yang kredibel. Janjian untuk konsultasinya pun simpel dan begitu aku kasih hari dan jam-nya, langsung deal dong.

Beberapa hari sebelumnya, admin telah mengirimkan invitation google meet ke email aku. Konsultasi menggunakan media video call begini adalah solusi banget disaat aku sendiri takut untuk keluar rumah, apalagi ke luar rumah untuk untuk konsultasi ke psikolog.

Sekitar 60 menit aku berkonsultasi dengan menggunakan google meet. Aku menceritakan dari awal hingga akhir apa yang aku rasakan, dan harapan solusinya bagaimana. Rasanya setelah konsultasi bagaimana? lega banget. Tapi bukan sekedar lega karena bisa menceritakan segala hal yang menjadi problem dalam hidup. Namun, yang aku ingin dapatkan adalah solusi dan jawaban yang perlu aku lakukan kedepannya.

Ke psikolog sendiri bukan berarti kita sakit jiwa ya. Aku sendiri sudah konsultasi ke beberapa teman dan memang tidak mendapatkan jawaban atas persoalan hidupku. Ya, aku sadar bahwa mereka memang bukan bidang profesional untuk itu. Makanya aku memilih psikolog untuk mengatasi persoalan yang aku rasakan, agar segera mendapatkan jawabannya. Sehingga kedepannya aku tidak salah langkah.

Setelah berkonsultasi hidupku menjadi lebih tenang. Aku mulai membuat mindmap, mulai fokus apa yang aku harus fokus. Aku jadi lebih bersyukur, karena saat pandemi ini aku masih bisa bekerja. Karena lihat di luar sana, masih banyak pengangguran. Dengan banyak bersyukur, aku jadi lebih menikmati hidup ini. Itu sih yang aku rasakan.

Jadi intinya, konsultasi dengan psikolog itu bukan berarti harus ada gangguan jiwa ya. Bisa jadi, butuh saran, opini, arahan dalam menentukan tujuan hidup. Karena, para psikolog di psylution.id sudah ahli dalam bidangnya, jadi aku sendiri tidak ragu untuk berkonsultasi di sana.

photo by: klikdokter.com